Home » » Misteri Di Balik Keindahan Pantai Kedung Tumpang

Misteri Di Balik Keindahan Pantai Kedung Tumpang

Posted by Serba Serbi on Sunday, 11 September 2016

            Destinasi wisataku kali ini adalah Pantai Kedung Tumpang. Sebenarnya saya sudah lama mendambakan pergi kesana, karena tertarik melihat gambar keindahan Pantai Kedung Tumpang yang beredar di dunia maya. Saya selalu merengek-rengek ke suami untuk mengantarkanku kesana. Alhasil Sabtu, 10 September 2016 saya diantarkan suami kesana bersama temannya. Pantai Kedung Tumpang terletak di desa Pucanglaban, kecamatan Pucanglaban, kabupaten Tulungagung. 

            Perjalanan kami menuju Pantai Kedung Tumpang penuh perjuangan. Di google map tidak diketemukan rute menuju Pantai Kedung Tumpang, selain itu teman suamiku yang asli Tulungagung juga tidak mengetahui rute menuju Pantai Kedung Tumpang. Alhasil perjalanan kami dipenuhi dengan bertanya ke penduduk sekitar. Dan yang jadi korban adalah si Anjar (teman suamiku), dia yang bertanya ke penduduk sekitar yang kami jumpai sepanjang perjalanan lebih dari 20x. hehehehe. Dan tanpa kita ketahui, ternyata dia membawakan kami bekal buah jeruk (mungkin karena orang tuanya juragan buah :P )
                 Sekitar 3 jam perjalanan (lebih lama karena kita banyak bertanya). Di Pantai Kedung Tumpang, kita dikenakan retribusi atau tiket masuk Rp 3.000/orang.
                  Dari tempat retribusi, tidak jauh kita bisa temukan tempat parkir mobil. Mobil tidak boleh masuk lokasi pantai di karenakan medannya yang tidak memadai dan berbahaya. Parkir mobil dikenakan tarif Rp 10.000,-
                 Baru kita turun dari mobil sudah ada yang nawarin ojek. Rp 15.000/orang sekali jalan. Tukang ojeknya bilang menuju Pantai Kedung Tumpang masih jauh pak-bu...sekitar 3-4 km (dalam hati tukang ojek ini pasti boong, soalnya biasanya tukang ojek sering bohong tentang jarak agar mau naik ojeknya). Setelah berunding kita pilih jalan kaki saja, sekalian olahraga. Dan GILAA...jalannya parah, rusak, dan jauh banget...benar tukang ojek tadi, lokasi parkir mobil dengan lokasi pantai berjarak 3-4km. (Alamat pegal-pegal dan njarem..hehehehe)





               Sekitar 40-60 menit kita jalan kaki,akhirnya kita sampai lokasi Pantai Kedung Tumpang dan disuguhkan panorama keindahan Pantai Kedung Tumpang yang sangat luar biasa.



            Karena kita sangat lelah dan dehidrasi, kita langsung beli es degan. Dan harganya sangat murah Rp 8.000/ biji. Itu sudah plus gula dan es batu.
           Saat, kita menuju ke penjual es degan tadi, ibu penjualnya bilang gini :"bawa jeruk ya mbak?kalau kesini tidak boleh bawa jeruk." (Dalam hati, ibu ini kok tahu kita bawa jeruk?). Terus saya tanya "mengapa bu?" Ibu itu cuma menjawab pantangan disini gak boleh bawa jeruk. Setelah selesai minum dan istirahat sebentar kita turun ke bawah tebing menuju Pantai Kedung Tumpang dan saya lihat ada papan larangan untuk membawa jeruk (tapi saya lupa foto karena kelelahan). Tanpa kita tanya, ibu penjual yang dekat dengan papn larangan itu menjelaskan kalau disini dilarang bawa jeruk karena akan mengundang ombak yang besar.

             Sungguh baru pertama kalinya saya ke pantai dengan medan yang seperti ini, saat kita turun mau menuju ke Pantai Kedung Tumpang perasaanku sudah tidak enak, bau mistis banget. Sesampainya bawah tapi belum ke lokasi pantainya, baru sampai kamar mandi pantai dan bekas tempat jualan, saya merasa tambah gak nyaman. Saya melihat kok kamar mandi pantai tidak terurus dan tempat jualan yang terbengkalai juga menambah suasana mistisnya. Akhirnya si Anjar dan Suami mencar cari jalan menujuu pantai. Anjar kearah kiri dan suami kearah kanan. Saat saya menunggu ombak pantai terdengar kencang banget dan perasaan saya gak enak, seperti ada yang bilang kalau kita melanjutkan ke pantai pasti ada sesuatu yang terjadi. Diantara kita ada yang tenggelam entah suami atau Anjar. Tidak lama Anjar kembali dan bilang medan ke arah kiri menakutkan cuma ada jalan setapak dan seutas tali. Dan suami tak kunjung kembali, saya jadi cemas, saya dan Anjar mau menyusul tapi takut kepencar. Akhirnya kita menunggu saja, dan saya senang suami datang kembali dengan selamat tapi bilang medan yang ke arah kanan sangat licin. Dan suami menuju ke arah kiri (yang dilihat Anjar tadi) tapi bilang hal yang sama seperti Anjar. Tapi di arah kiri suamiku seperti melihat sesosok perempuan yang tersenyum padanya.
         Sebenarnya saya kecewa, kepantai tapi kok tidak menyentuh pantai tapi perasaan saya benar-benar gak enak, daripada saya ke pantai tapi terjadi apa-apa mending saya urungkan niat saja. Terus kami putuskan naik ke atas tebing saja. Dan mengambil foto dari atas walaupun hasilnya tidak maksimal.



          Di atas Tebing, saya melihat 5 hal keanehan tentang ombak di Pantai Kedung Tumpang. Pertama ada sebuah garis lurus putih, kalau ombak kok gak hilang-hilang. Kedua ada ombak yang warnanya seperti merah darah (merah bata). Ketiga ada ombak yang keruh tapi keruhnya itu memusat di suatu titik saja dan keruhannya itu tidak bercampur dengan ombak lain dan bertahan lama di suatu titik, tidak menghilang seperti ombak pada umumnya. Keempat ada ombak tengahnya kosong tanpa gemuruhan/ombak yang biasanya warna putih, yang konon katanya ombak seperti itu malah berbahanya karena daya tarik ombak seperti itu malah lebih berbahaya. Yang terakhir ketika suami saya tadi yang nyari rute ke kanan tadi melihat ombak yang berdiri tinggi (mungkin karena nabrak tebing makanya berdiri tinggi ombaknya) tapi yang aneh itu ombaknya berdirinya lama, seolah-olah menatap suamiku. Hal itu juga saya lihat waktu diatas melihat ombak yang besar yang seolah-olah berdiri menabrak tebing.
          Dengan penuh kecewa, kita putuskan untuk pulang. Dan kita pilih naik ojek saja. Si Anjar di ceritain sama tukang ojeknya kalau 6 bulan terakhir memang ombak Pantai Kedung Tumpang memang besar tidak tahu kenapa. Dahulu waktu ramai, pengunjung Pantai Kedung Tumpang bisa mencapai ribuan per hari. Perjalanan pulang, kita sempatkan solat ashar dan magrib di masjid. Dan tidak tahu kenapa, selama saya solat saya berasa masih di Pantai Kedung Tumpang. Sesampai rumah Anjar, waktu tidur suamiku pun juga merasakan hal yang sama, dalam mimpinya seperti masih disana dan melihat seorang perempuan yang tenggelam disana. Tidak tahu itu hanya mimpi belaka, atau benar-benar kejadian di sore itu ataupun kejadian di waktu tempo dulu. Yang tambah bikin menakutkan si Anjar baru dapat kabar dari temannya di Pantai Kedung Tumpang sekitar seminggu yang lalu ada korban meninggal di makan ombak karena berselfie ria. Saya pun tambah penasaran, saya searching di internet juga baru-baru ini pada tanggal 5 Mei juga terjadi korban meninggal 2 orang karena selfie.
              Saya juga tidak tahu, apakah itu cuma kebetulan saja atau bagaimana. Kalau Anda masih penasaran bisa buktikan sendiri. Saya menulis berdasarkan pengalaman dan apa yang saya lihat saja.



              


0 comments:

Post a Comment

.comment-content a {display: none;}